Agustus dan Persepsi Rasa

"Ora munggah Bay?"

Pertanyaan yang sering aku dapatkan ketika aku memutuskan untuk tirakatan di kampung. Memang beberapa tahun yang lalu aku lebih sering menghabiskan malam peringatan hari kemerdekaan Indonesia di atas ribuan meter permukaan laut. Memperingati hari kemerdekaan bangsa ini dengan mendaki sebuah gunung merupakan sebuah pengalaman yang sangat menarik dan emosional bagiku.


Merbabu, Agustus 2015.

Lima tahun yang lalu, tepat pada bulan Agustus aku berkesempatan mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia di gunung Merbabu. Ya, ini adalah titik balik persepsiku terhadap sebuah upacara bendera. Selama ini bagiku upacara bendera ya sekedar upacara bendera saja. Sekedar menjalani sebuah keterpaksaan karena tuntutan dari sekolah. Toh ketika aku mencoba untuk khidmat saat upacara berlangsung ada saja gangguan, seperti orang lain atau siswa lain yang sibuk ramai sendiri, bicara sendiri, hingga asyik sendiri. Suasana inilah yang aku temui, aku jalani, selama di bangku sekolah dahulu. Hingga akhirnya semua itu berubah seketika pada Agustus tahun 2013.

Mentari pagi baru saja menyapa di ufuk timur. Hawa dingin perlahan mulai menjadi sejuk. Lelah dan rasa kram yang menjalar di kaki ini pada malam sebelumnya membuat aku harus berhenti dan mendirikan tenda di Sabana 2 gunung Merbabu. Rasanya memang sudah tak sanggup lagi bila harus melanjutkan perjalanan. Aku tahu batasanku dan aku juga masih begitu awam soal pendakian. Pendakian di Agustus tahun 2013 ini adalah pendakian keduaku, setelah mengawali pendakian perdana di bulan Juni di tahun yang sama pula.

Waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Dua orang kawan yang menemaniku sudah berangkat terlebih dahulu menuju Kenteng Songo. Aku masih begitu nyaman di dalam tenda, hehehe. Entah apa yang mendorongku untuk tetap melanjutkan menuju puncak, aku tak tahu. Tiba-tiba saja ada sebuah rasa yang muncul dan mendorongku untuk menuju puncak Kenteng Songo. Sesegeralah aku menuju puncak setelah menghabiskan secangkir kopi.

Badan yang menggigil karena hawa dingin sesekali menyerangku ketika hembusan angin membawa udara dingin di pagi hari ini. Napasku juga sudah mulai terengah-engah, pikirku aku akan melewatkan detik-detik upacara bendera.

"Mari Mas."
"Semangat Mas, bentar lagi sampai."


Kalimat-kalimat yang menyapaku ketika saling bertemu dengan pendaki lainnya. Aku mengatur ritme perjalananku, tidak terlalu memaksakan diri. Pun beberapa bahkan sering kali aku beristirahat untuk mengatur napas dan melegakan kaki.

Detik sudah berganti menit dan menit sudah menyusun menjadi jam. Tanpa terasa aku sudah berada di lokasi upacara bendera, Kenteng Songo. Ketika aku melihat jam di tangan kananku, ternyata waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 09.30. Banyak yang berfoto di sini. Senyum yang merekah nampak dari setiap pendaki yang berhasil hingga berdiri di sini. Tawa gembira juga tak luput dari mereka.

"Merdeka! Merdeka! Merdeka!"

Kata yang sering aku dengar di puncak ini. Diteriakkan dengan lantang kata Merdeka itu, mengisyaratkan bahwa bangsa ini memang sudah merdeka.

Ketika waktu sudah bergulir di angka sepuluh, upacara benderapun dimulai. Seketika suasana yang ramai mendadak menjadi sunyi dan tenang. Semua berdiam diri dan segenap hati mengikuti proses upacara. Salah satu momen yang membuat bulu kuduk ini berdiri adalah saat pengibaran bendera Merah Putih. Semua yang ada di sini ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tanpa peduli siapa dirinya, siapa dirimu, yang ada hanya sama-sama Indonesia.

Sepanjang mengikuti upacara ada sebuah rasa yang sulit dijelaskan. Semua peserta tetap tenang tak ada yang gaduh apalagi berbicara sendiri. Semuanya tenang, semua begitu mengalir tenang, bak air yang mengalir damai di sungai. Untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan ini, emosi ini. Inikah rasa khidmat yang sering kali dinasehatkan pada para peserta agar khidmat saat mengikuti upacara?

Ketika rasa yang sulit dijelaskan itu datang, tiba-tiba saja pikiran ini dipenuhi dengan apa yang sudah terjadi dengan bangsa ini. Perjalanannya menuju merdeka, politik yang menggulingkan kekuasaan, reformasi, gaduh-gaduh politik, hingga orang-orang kecil yang begitu tulus.

Selesai upacara aku menepi sejenak. Duduk di tepian puncak ini, memandang jauh alam Indonesia yang begitu memesona. Anugerah yang luar biasa Tuhan berikan kepada bangsa ini. Rasa yang sulit dijelaskan tadi masih menyertaiku ketika aku duduk di tepian puncak ini. Masalah bangsa ini memang tak mudah untuk diselesaikan. Terkadang aku berpikir apakah mereka para elit-elit negeri ini memang benar-benar bekerja demi rakyat bukan demi kepentingan diri sendiri? Sebuah tanya yang sering kali muncul. Ah, entahlah, begitu banyak rasa yang sulit dijelakan di sini.

Indonesia itu adalah pohon yang kuat, yang indah itu.
Indonesia itu adalah langit yang biru, yang terang itu.
Indonesia itu adalah mega putih, yang lamban itu.
Indonesia itu adalah udara yang hangat ini.

Laut yang menderu memukul-mukul ke pantai.
Cahaya senja bagiku itu adalah jiwanya Indonesia yang bergerak dalam gemuruhnya samudera mana kala aku mendengar anak-anak petani.
Aku mendengar Indonesia mana kala aku menghirup bunga-bunga.
Aku menghirup Indonesia, Nggit.

Bung Karno, Ketika Bung Di Ende.



Tetaplah berkibar.

Semenjak upacara pada Agustus tahun 2013 itu paradigma tentang upacara bendera berubah bagiku. Tak lagi membosankan, tak lagi karena sebuah keterpaksaan, tak seenaknya sendiri ketika menghadiri upacara, tak berbicara sendiri, tidak sibuk sendiri, hanya tetap tenang mengikuti upacara hingga akhir. Ya, walaupun kini aku sudah tidak lagi mengikuti upacara bendera tetapi rasa yang sulit dijelaskan itu masih bisa aku ingat hingga sekarang.

Dirgahayu Bangsaku, Dirgahayu Indonesia.
Catatan perjalanan, Episode Pendaki Pensiun.

Post a Comment

0 Comments