Di penghujung bulan Februari, aku kembali lagi di kota ini. Sebuah kota yang pada akhirnya membuat aku jatuh hati padanya. Selaksa rasa pernah terasa di sini. Ya, aku kembali bersua dengan kota Kediri bersama dengan tiga orang jejaka Pakelonan.
Seraya pagi datang menyapa kami. Matahari masih belum begitu nampak, hanya semburat jingga yang menghiasi langit Bumi Kadiri. Di kejauhan, di ujung timur, gunung Kelud terselimuti awan. Semilir hembusan angin pagi menyeruak ke setiap sudut ruang tamu. Hembusan angin yang masih membawa ingatan akan kekalutan Kelud.
Batu-batu berserakan di sepanjang jalan. Ada yang kecil seperti kerikil, ada yang segenggaman tangan orang dewasa, dan ada pula batu yang cukup besar. Jalanan yang dahulu mulus kini berlubang di sana-sini. Gardu-gardu pandang sebagian hancur, sebagian lagi masih bertahan dengan goresan memori akan keperkasaan Kelud sewaktu kalut.
Siang itu, 20 Februari 2015 cuaca cukup cerah. Terik matahari menyengat menusuk kulit. Awan yang sesekali datang menghalangi pancaran sinar matahari. Aku bersama tiga jejaka Pakelonan yaitu Aziz, Fariza, dan Arif berkunjung ke gunung Kelud untuk melihat lebih dekat pasca Kelud kalut. Satu tahun sudah semenjak peristiwa yang menggegerkan itu berlalu. Kini gunung Kelud menjelma kembali ke bentuk awalnya. Kubah lava yang dahulu menjadi daya tarik wisata kini hilang, diterbangkan ke dirgantara sewaktu Kelud kalut. Daya tarik gunung Kelud tidak lagi mengenai kubah lava, pemandian air panas, ataupun terowongan Ampera, tetapi keadaan selepas kalutlah yang menjadi kekaguman. Kekaguman tentang kuasa alam.
Angin yang berhembus sepanjang perjalanan naik, masih kuat membawa ingatan tahun lalu. Betapa dahsyatnya letusan Kelud waktu itu. Gemuruhnya menggetarkan kaca-kaca jendela yang berjarak kurang lebih 200 km. Iya! Kaca-kaca jendela di kota Solo ikut bergetar setiap terdengar dentuman dari gunung Kelud. Sungguh betapa membisingkan telinga suara dentuman di Kediri waktu itu. Abunya menjulang tinggi ke angkasa menutupi sebagian langit Jawa.
Langkah kaki ini mulai berpindah dari tempat parkir terakhir menuju lebih dekat dengan Kelud. Pagar-pagar pembatas jalan menjadi saksi bisu kekalutan Kelud. Ada yang masih kokoh berdiri, ada pula yang hancur karena menahan amarah Kelud. Batu-batu besar masih ada di beberapa sudut tepi jalan. Sebagian jalan sudah tidak utuh lagi, beberapa titik di tepian ruas jalan sudah terkikis dan jurang yang dalam menganga begitu saja. Kaki ini terhenti karena sebuah pagar dari kawat besi berdiri menghalangi untuk berjalan lebih jauh lagi.
"Dilarang masuk. Berbahaya!"
Sebaik kalimat tertulis jelas di sebuah papan. Memperingatkan siapa saja yang datang untuk tetap menjaga jarak dengan Kelud.
Sangat kontras sekali. Sebagian tempat sudah mulai ditumbuhi tumbuhan dan sebagian lagi masih gersang. Dinginnya angin yang berhembus masih membawa isyarat satu tahun lalu setiap bersinggungan dengan kulit. Membuat bulu kuduk berdiri ketika mengingat kejadian itu. Sungai yang menampung aliran isi gunung Kelud masih menyisakan bekasnya.
"Kae, di sebelah kono ndisik enek terowongane." Ujar Fariza sembari menunjuk lokasinya.
"Terus enek anak gunung Kelud e." Timpalnya lagi.
Beberapa penjelasan Fariza mengisyaratkan perubahan gunung Kelud setelah erupsi 2014. Baik sebelum maupun setelah erupsi panorama gunung Kelud memang tak bisa terbantahkan. Matahari mulai bergulir menuju barat tetapi kami masih sibuk mengambil gambar baik berupa foto maupun video. Deretan puncak gunung Kelud masih terlihat gagah walaupun dihantam ganasnya kekalutan Kelud waktu itu. Latar belakang pasca erupsi membuat kita seolah berada di dunia lain. Decak kagum tak henti ketika memandangi itu semua, sisa-sisa keganasan gunung Kelud.
Trailer perjalanan jelajah Kediri-Blitar bisa dilihat di siniGelak tawa selalu menemani sepanjang pengambilan gambar. Waktupun kian berlalu dan tak terasa matahari sudah jauh bergulir menuju ufuk barat. Sejenak ketika bersenjagurau di gardu pandang terlintas betapa alam itu sungguh dahsyat. Ia mampu mengubah sesuatu dalam sekejab tanpa peringatan atau sebuah pertanda dan perjalanan singkat inipun berakhir. Meninggalkan memori di Kadiri dan kekalutan Kelud.
Kini, sudah tiga tahun sejak letusan dahsyat yang mengguncang Bumi Sekartaji. Kekalutan Kelud akan selalu menjadi penanda bahwa alam mempunyai kuasanya tersendiri. Tanggal 14 Februari bukan hanya tentang pemberontakan PETA yang dipimpin oleh Supriyadi tetapi juga tentang alam berserta kekalutannya di Bumi Kadiri. Dan pada akhirnya yang tersisa adalah tentang kuasa alam serta ingatan tentang Kelud Kalut.
Catatan tambahan:
* Harga tiket masuk kawasan Gunung Kelud sebesar Rp. 10.000 (ini di tahun 2015, untuk sekarang kurang tahu, apakah naik atau tidak).
* Lebih baik membawa motor karena bisa sampai di tempat parkir terakhir. Sedangkan jika membawa mobil maka parkirnya berada di bawah dan cukup lumayan dari tempat parkir motor terakhir.
* Dari parkir mobil untuk menuju atas bisa berjalan kaki (jika niat, hehehe) atau bisa naik ojek untuk mengantar sampai di tempat parkir terakhir.
* Perjalanan ini dilakukan di tahun 2015 dan jika ada perubahan tarif ataupun lainnya mohon dikoreksi.


0 Comments